Dinas Pendidikan Kota Cirebon kembali mengadakan kegiatan ilmiah Sarasehan Pendidikan, Kamis (2/5). Kegiatan yang dilangsungkan di Hotel Luxton tersebut mengangkat tema tentang Pendidikan untuk Generasi Cerdas Berkarakter dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Sebagai narasumber adalah konsultan pendidikan Erik Syamsul Rizal, Dosen Universitas Bina Nusantara Jimmy Sapoetera dan staf ahli Walikota Cirebon Abidin Aslich. Sebagai moderator adalah Deny Rochman, mantan jurnalis yang aktifis literasi dan guru SMP Negeri 4 Kota Cirebon.

Hadir dalam acara dihadiri ratusan guru-guru Sekretaris Daerah Pemda Kota Cirebon Drs H Asep Dedi MM sekaligus membuka acara. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon Drs H Jaja Sulaeman M.Pd bersama Sekdisdik Drs H Adin Imaduddin, jajaran kepolisian dan TNI serta undangan lainnya. Kadisdik berterima kasih kepada semua pihak atas kerja dan dukungannya sehingga kegiatan sarasehan pendidikan bisa terlaksana. Termasuk terim kasih kepada narasumber yang ikut serta memikirkan pendidikan kota Cirebon ditengah perubahan jaman di era revolusi industri 4.0.

Tiga narsum yang tampil memaparkan analisis yang berbeda namun saling menguatkan. Jimmy Sapoetra banyak bicara tentangan revolusi industri dan tantangannya. Erik Syamsul Rizal, menitikberatkan pada kemampuan guru di abad 21. Sementara Abidin Aslich, kendati staf ahli Walikota bidang hukum dan politik, namun basic kulturalnya yang cinta budaya lokal banyak bicara kesiapan masyarakat Cirebon dalam era global. Penyampaiannya yang cenderung berapi-api dan blak-blakan menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta sarasehan. Seperti tantangan mantan Kepala Kesbangpol ini kepada guru-guru.

“Cung siapa diantara guru-guru yang tahu arti dari ungkapan ini. Dandang wulung manuk keduwong kembang kanigaran. Tulisan ini dijumpai dinding Keraton Kasepuhan. Siapa yang bisa jawab saya kasih uang Rp.500 ribu. Cung siapa?” tanya Abidin Aslich yang akhirnya menambah jumlah hadiahnya menjadi 1 juta rupiah karena melihat peserta belum ada yang menjawab dengan benar. Sebagai orang asli Cirebon, pihaknya mengaku prihatin dengan generasi muda Cirebon yang tak mengenal sejarah dan identitas Cirebon. Padahal sebuah bangsa jika melupakan akar budayanya ia akan mengalami kebangkrutan.

Sarasehan yang dimulai pukul 14.00 itu menarik perhatian banyak guru. Waktu yang terbatas, hanya ada lima penanya yang diberikan kesempatan. Mereka mengeluhkan kurikulum dan kebijakan nasional yang relatif sulit dilaksanakan. Seperti model pembelajaran hots, sarana sekolah yang tak memadai, efektivitas kurikulum 2013, dampak negatif dan kebijakan pendidikan yang ambigu dalam menyikapi perkembangan revolusi industri 4.0. Hingga melemahnya perhatian pendidikan budaya dan karakter dalam implementasi pendidikan kepada anak.

Ketiga nasasumber sepakat, bahwa tidak mungkin sebagai sebuah bangsa Indonesia menghindari dari perkembangan revolusi industri 4.0. Terpenting adalah bagaimana guru-guru membekali diri dengan kemampuannya di abad 21. Guru-guru harus punya kemampuan kreatif, inovatif, komunikatif dan kooperatif untuk mengajar dan mendidik siswanya. Kurikulum yang ada dalam implementasinya harus disipi nilai-nilai budaya kearifan lokal. Nilai-nilai ini kelak akan membentuk anak cerdas berkarakter yang tangguh di era kompetisi kancah global. (PaDE).

SARASEHAN PENDIDIKAN HADIAHI 1 JUTA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
RSS
Twitter
Visit Us
Follow Me
YouTube
Instagram