Komunitas Literasi Gelemaca Kota Cirebon melakukan studi banding ke Yogyakarta. Kunjungan ini upaya berbenah komunitas ini terhadap program kerja ke depan. Di kota gudeg ini, ada dua komunitas yang dikunjungi. Yaitu Taman Bacaan Masyarakat Guyub Rukun Desa Sedayu Bantul, dan Kampung Literasi Wijayakusuma Kaliurang.

“Kunjungan studi banding ini untuk berbagi ilmu dan pengalaman komunitas Gelemaca dengan komunitas yang ada di Jogja. Kami berterima kasih kepada TBM Guyub Rukun dan Kampung Literasi Wijayakusuma yang berkenan menerima kunjungan kami,” tutur Lilik Agus Darmawan, S.Pd., MM kepada dua pihak komunitas dalam kesempatan terpisah saat sambutan kunjungannya.

TBM Guyub Rukun merupakan komunitas yang digagas oleh Triyono bersama empat rekan lainnya sejak 2015 lalu. Bermodal rumah pribadinya, sarjana perpustakaan yang masih lajang ini kini memiliki koleksi buku ribuan. Buku-buku.itu ada yang tersebar di dua TBM binaanya, di sekolah-sekolah mitra dan warung-warung angkringan.

“Selain memiliki taman bacaan, kami juga melayani bimbingan belajar bagi anak-anak usia sekolah secara sukarela. Untuk menghidupi TBM kami memproduksi kompos dan aneka ketrampilan produktif lainnya,” ujar Triyono yang mengaku kegiatannya tanpa ada dukungan dana dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah. Yang masih menjadi kendala adalah perihal pemasaran produk yang belum maksimal.

Sementara itu, komunitas kampung literasi Wijayakusuma sebelumnya adalah lembaga pendidikan PAUD. Kemudian berkembang memiliki lembaga ketrampilan khususnya untuk ibu-ibu. Tujuan awalnya memberdayakan perempuan agar bisa berkarya yang menguntungkan. Kini anggotanya sedikitnya 200 orang, baik dari dalam maupun luar Kampungnya.

“Alhamdulillah sejak komunitas ini berdiri respon warga di sini bagus. Kini literasi yang dikembangkan tak hanya literasi dasar seperti membaca dan menulis, tetapi ada literasi digital, finansial dan sebagainya,” tutur Hastuti Setianingrum, ketua TBM memaparkan kondisi komunitasnya yang kini mendapatkan bantuan 100 juta dari Kemdikbud RI berkat perkembangan komunitas ini.

Berbeda dengan TBM Guyub Rukun, untuk pemasaran produk karya binaan TBM Wijayakusuma mengaku tak ada kesulitan berarti. Menurutnya, sekitar 200 anggotanya dalam memasarkan selain jual beli sesama anggota juga memanfaatkan teknologi digital dengan marketing online. Kemampuan ini diasal melalui literasi digital.

Ada kesamaan dua TBM tersebut. Dua-duanya dirintis melalui kesadaran kolektif beberapa anggota masyarakat untuk memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat. Eksistensinya dibangun secara mandiri, baik dari sisi pendanaan, SDM hingga program kerja. Jika pun melibatkan pihak lain, hubungan organisasi bersifat kemitraan dan kerjasama.

Tak hanya sharing ilmu dan pengalaman, para pegiat literasi juga uji nyali dan fisik mereka. Sebanyak 19 pegiat literasi Kota Udang menjajagi arus deras Sungai Elo Kab Magelang Jawa Tengah. Rute arus sungai sepanjang 12 Km dihabiskan dalam waktu sekitar 4 jam. Sepanjang melintasi sungai, sesama perahu karet dimeriahkan games dan “aksi serang” sesama kelompok perahu. (PaDE)

GELEMACA STUDI BANDING KE JOGJA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
RSS
Facebook
Facebook
YouTube
Instagram