Lorong gelap, pengap dan dingin langsung dirasakan rombongan Dinas Pendidikan dan para kepala sekolah SD SMP Kota Cirebon, Sabtu (24/11). Doa keselamatan tak henti terucap dalam hati, kendati bulu kudug tak terasa berdiri. Pukul satu siang, perjalanan panjang menelusuri Taman Hutan Raya (Tahura) Ir Juanda Bandung dimulai.

Setelah perjalanan sekitar 3 jam menaiki bus Cirebon-Bandung rombongan singgah di kawasan konservasi alam tersebut. Cukup repot akses jalan yang dilalui bus ke lokasi. Sempit berkelok dan menanjak. Berpapasan mobil kecil saja sulit, apalagi bus atau truk. Namun perjalanan akhirnya sampai hingga makan siang dan sholat qashar dzuhur-ashar ditunaikan.

Tahura adalah salah satu tujuan wisata keluarga berada di Kota Bandung. Hutan ini berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kec. Cimenyan Bandung. Berada di ketinggian 770 – 1330 dpl. Luas area taman ini sekitar 590 ha, dan membentang dari kawasan dago pakai sampai dengan Maribaya Lembang. Biasa menjadi tempat santai dan outbond lembaga/organisasi.

Ada sejumlah tempat wisata di hutan ini. Seperti Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Omas, Penangkaran Rusa, Tebing Keraton, Hiking dan taman bermain keluarga. Ada sejumlah jenis pohon dan tanaman. Namun sebagian besar ditumbuhi pohon pinus yang besar dan lebat. Ini karena usia hutan itu sudah lama ada. Termasuk masa penjajahan Belanda dan Jepang hutan ini sebagai salah satu markas.

Goa Belanda dan Goa Jepang menjadi tujuan utama kunjungan rombongan Disdik. Jarak kedua gua ini berdekatan. Untuk sampai ke lokasi, rombongan harus menuruni anak tangga turun dan curam. Cukup merepotkan dan harus ekstra hati-hati bagi mereka yang tak muda lagi. Setelah menelusuri jalan beraspal sempit rombongan tiba dipintu goa.

Goa Jepang menjadi tujuan pertama. Pintu masuk goa ini seukuran tinggi di atas kepala orang Asia. Dengan bermodal lampu senter sewaan, beriringan rombongan masuk ke lorong gelap. Pemandu mengingatkan pengunjung agar selalu berdoa. Selangkah demi selangkah, goa hasil kerja paksa romusha itu ditelusuri.

Atap gua masih asli sejak Jepang berkuasa. Menurut pemandu, lorong goa adalah sisa lava dari Gunung Galunggung yang meletus dahsyat pada masa lalu hingga membeku dan menjadi bukit. Goa dengan empat pintu dan jebakan itu belum sempat difungsikan. Jepang keburu kalah perang sehingga meninggalkan goa yang dibuat tahun 1942.

Belum hilang rasa deg-degan menelusuri lorong Goa Jepang. Rombongan kembali masuk ke Goa Belanda. Goa ini dibangun sekitar 1918 menjadi markas militer, penjara dan penyimpanan senjata. Kondisinya lebih bagus. Lorong dan atap goa sudah disemen. Bahkan sisa rel kereta dan jaringan listrik masih terlihat di sana. Termasuk penjara dan tempat siksaan.

Menelusuri goa kuno tersebut terasa hawa misteri. Rasa dingin, pengap dan gelap membuat merinding bulu kudug. Namun ramainya pengunjung, banyaknya pedagang dan monyet berkeliaran di sekitar lokasi membuat rombongan tetap ceria menikmati akhir pekan di taman hutan raya Bandung. Apalagi sambil senyum-seyum tipis saat foto-foto. Ciiiisss…. (PaDE)

MENELUSURI LORONG MISTERI TAHURA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
RSS
Twitter
Visit Us
Follow Me
YouTube
Instagram